Tren Olahraga Malam Setelah Tarawih Makin Ramai di 2026, Benarkah Bikin Cepat Kurus atau Malah Bahaya Bagi Jantung?

Tren olahraga malam setelah ibadah tarawih makin digemari di Ramadan 2026. Benarkah lebih ampuh turunkan berat badan atau justru berisiko tinggi bagi jantung? Simak fakta medisnya.
Ada pemandangan yang berbeda di bulan Ramadan tahun 2026 ini. Jika biasanya pusat kebugaran (gym) dan area jogging track dipenuhi warga pada sore hari menjelang berbuka (ngabuburit), kini trennya mulai bergeser. Semakin banyak masyarakat, terutama kalangan milenial dan Gen Z, yang memilih memadati fasilitas olahraga pada malam hari, tepatnya setelah menunaikan ibadah salat Tarawih.
Pergeseran gaya hidup ini didorong oleh berbagai alasan. Banyak yang meyakini bahwa berolahraga di malam hari lebih efektif untuk membakar kalori ekstra dari hidangan berbuka yang cenderung manis dan berlemak, sehingga proses penurunan berat badan (diet) menjadi lebih cepat. Selain itu, berolahraga saat perut sudah terisi energi penuh dan tidak sedang menahan haus dianggap jauh lebih optimal untuk melakukan latihan intensitas tinggi.
Lantas, benarkah olahraga malam bikin cepat kurus? Dari sudut pandang medis, penurunan berat badan pada dasarnya ditentukan oleh defisit kalori harian, bukan sekadar waktu pelaksanaannya. Namun, karena tubuh sudah terhidrasi dan mendapat asupan nutrisi saat berbuka, performa olahraga memang bisa lebih maksimal. Pembakaran kalori pun bisa lebih banyak dibandingkan saat memaksakan diri berolahraga sore hari dalam kondisi gula darah sedang rendah.
Meski menjanjikan performa yang lebih baik, tren ini menyimpan potensi bahaya, terutama bagi kesehatan jantung dan ritme sirkadian tubuh. Melakukan olahraga dengan intensitas terlalu berat (seperti lari cepat atau angkat beban berat) sesaat sebelum waktu tidur dapat memicu lonjakan hormon adrenalin dan detak jantung. Akibatnya, sistem saraf menjadi terlalu waspada dan menyebabkan insomnia atau kesulitan tidur di malam hari.
Bagi mereka yang berpuasa, kurang tidur adalah musuh utama kesehatan jantung. Waktu istirahat malam yang terpotong karena olahraga, ditambah harus bangun lebih awal untuk makan sahur, akan membuat tubuh kelelahan ekstrem. Jika pola kurang tidur ini dilakukan terus-menerus selama sebulan penuh, tekanan darah bisa meningkat drastis dan membebani kerja otot jantung secara signifikan.
Oleh karena itu, para ahli kesehatan menyarankan agar olahraga malam dilakukan dengan bijak. Beri jeda setidaknya 1 hingga 2 jam setelah makan berat atau setelah tarawih agar makanan tercerna dengan baik. Pilihlah jenis olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang, seperti brisk walking (jalan cepat), bersepeda santai, atau yoga. Yang terpenting, pastikan Anda tetap memiliki waktu tidur minimal 5-6 jam agar tubuh dan jantung tetap sehat hingga hari raya tiba.






