Kiamat Energi? Harga Minyak Meroket Tajam Meski Ratusan Juta Barel Cadangan Darurat Dunia Dicairkan!

Harga Minyak Meroket Tajam
Harga minyak melonjak lebih dari 7% tembus $99 per barel meski IEA merilis 400 juta barel cadangan darurat. Pasar panik karena penutupan Selat Hormuz mengancam pasokan energi global.
Harga minyak dunia melonjak tajam lebih dari 7% pada perdagangan hari Kamis, dengan patokan global Brent menyentuh angka $99,1 dan West Texas Intermediate (WTI) di level $93,8 per barel. Lonjakan drastis ini terjadi justru setelah Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar sepanjang sejarah, yakni sebanyak 400 juta barel dari 32 negara anggotanya.
Pasar tampaknya sama sekali tidak terkesan dengan langkah bersejarah tersebut. Para pedagang meragukan bahwa tumpukan cadangan pemerintah mampu menutupi guncangan pasokan raksasa yang dipicu oleh perang di Timur Tengah. Terganggunya aliran minyak melalui Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui seperlima pasokan minyak global—membuat pasar saat ini sepenuhnya bergerak dalam "mode panik" yang dipenuhi ketakutan dan ketidakpastian.
Para analis menilai bahwa pelepasan rekor cadangan IEA ini sebenarnya hanya mampu menutupi sekitar seperempat dari defisit pasokan yang mencapai 20 juta barel per hari akibat krisis Hormuz. Keputusan drastis IEA ini justru mengirimkan sinyal bahaya kepada investor, mengindikasikan bahwa badan tersebut meyakini perang tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Masalah logistik dan waktu pengiriman juga menjadi alasan utama mengapa harga terus meroket. Meskipun Amerika Serikat berjanji melepaskan 172 juta barel dari Cadangan Minyak Strategisnya, proses distribusinya diperkirakan memakan waktu hingga 120 hari. Ketidakjelasan mengenai seberapa cepat minyak darurat ini bisa benar-benar masuk ke pasar fisik membuat para pedagang enggan menurunkan harga.
Ke depannya, prospek harga energi global diprediksi akan tetap gelap. Selain krisis jangka pendek yang belum terpecahkan, negara-negara anggota IEA nantinya harus kembali membeli minyak untuk mengisi ulang cadangan darurat mereka yang terkuras. Hal ini mengisyaratkan bahwa harga minyak dunia berpotensi akan terus bertengger di level tinggi, bahkan jauh setelah konflik bersenjata di Timur Tengah mereda.







