Tragedi Berdarah! Rudal AS Hantam Sekolah Putri di Iran, 150 Siswi Tewas Akibat Salah Data Intelijen?

Internasional12 Maret 20262 menit baca
Tragedi Berdarah! Rudal AS Hantam Sekolah Putri di Iran, 150 Siswi Tewas Akibat Salah Data Intelijen?

Rudal AS Hantam Sekolah Putri di Iran

Serangan rudal Tomahawk AS ke sekolah putri di Minab, Iran, menewaskan 150 siswi. Investigasi internal mengungkap penggunaan data intelijen usang sebagai pemicu tragedi kemanusiaan ini.

Militer Amerika Serikat tengah berada dalam sorotan tajam setelah muncul laporan bahwa serangan udara yang menghantam sebuah sekolah putri di Minab, Iran, kemungkinan besar disebabkan oleh penggunaan data target yang sudah usang. Tragedi yang terjadi pada hari pertama serangan AS dan Israel ke Iran ini dilaporkan menewaskan sedikitnya 150 siswi. Pentagon hingga kini masih melakukan investigasi internal namun menolak memberikan komentar lebih lanjut.

Dua sumber internal yang memahami masalah ini mengungkapkan kepada Reuters bahwa pejabat yang bertanggung jawab menyusun paket serangan diduga menggunakan intelijen lama. Sekolah tersebut diketahui berlokasi tepat di sebelah kompleks militer yang dioperasikan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kesalahan fatal dalam pemetaan koordinat ini dituding menjadi penyebab utama rudal salah sasaran dan justru menghantam area pendidikan.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan apa yang disebut para ahli sebagai rudal Tomahawk milik AS saat menghantam lokasi tersebut. Gambar pemakaman massal para siswi yang ditayangkan televisi pemerintah Iran memperlihatkan peti mati kecil terbungkus bendera nasional, memicu gelombang kemarahan publik. Jika terbukti disengaja, serangan terhadap fasilitas sipil seperti sekolah dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang internasional.

Presiden Donald Trump sempat memberikan pernyataan yang simpang siur, awalnya menuduh Iran bertanggung jawab tanpa bukti, namun belakangan menyatakan akan menunggu hasil penyelidikan resmi. Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak pernah secara sengaja menargetkan warga sipil dalam operasi militernya. Namun, tekanan internasional terus meningkat agar AS segera mengakui kesalahan teknis tersebut.

Kasus ini disebut-sebut sebagai salah satu insiden korban sipil terburuk dalam beberapa dekade konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat. Investigasi yang masih berlangsung diharapkan dapat mengungkap bagaimana data lama bisa lolos dalam prosedur penyerangan dan faktor apa saja yang menyebabkan kegagalan sistematis ini. Dunia kini menanti pertanggungjawaban hukum atas hilangnya nyawa ratusan anak-anak sekolah tersebut.

Berita Lainnya

Krisis Selat Hormuz: Seruan Trump Minta Kawalan Kapal Perang Internasional Belum Disambut Positif
Internasional

Krisis Selat Hormuz: Seruan Trump Minta Kawalan Kapal Perang Internasional Belum Disambut Positif

Presiden AS Donald Trump mendesak negara-negara sekutu mengirim kapal perang untuk mengamankan Selat Hormuz yang diblokade Iran. Meski harga minyak melonjak, seruan ini belum mendapat komitmen pasti. Tiongkok dan Eropa memilih bersikap hati-hati, sementara India sukses meloloskan kapalnya lewat diplomasi. Iran sendiri menantang ancaman Trump untuk membuktikan kekuatan militernya.

Baru saja
Israel Gempur Gaza Tengah: 13 Warga Palestina Tewas dan Rencana Pembukaan Terbatas Jalur Rafah
Internasional

Israel Gempur Gaza Tengah: 13 Warga Palestina Tewas dan Rencana Pembukaan Terbatas Jalur Rafah

Serangan udara Israel menewaskan 13 warga Palestina di Gaza, termasuk sembilan petugas polisi dan seorang wanita hamil. Insiden tragis ini terjadi di tengah bulan suci Ramadan dan upaya gencatan senjata yang belum stabil. Di sisi lain, muncul kabar pembukaan terbatas gerbang Rafah pada Rabu mendatang untuk memfasilitasi ribuan pasien yang kritis di tengah krisis obat-obatan yang akut.

Baru saja
EROPA BERTINDAK TEGAS! Sanksi Diperpanjang, Putin Balas Ratakan Infrastruktur Energi Ukraina Saat Dunia Lengah!
Internasional

EROPA BERTINDAK TEGAS! Sanksi Diperpanjang, Putin Balas Ratakan Infrastruktur Energi Ukraina Saat Dunia Lengah!

Uni Eropa sepakat memperpanjang sanksi bagi pendukung invasi Rusia, memecah kebuntuan dari Hungaria dan Slovakia. Langkah ini bertepatan dengan gempuran rudal Rusia yang menghancurkan fasilitas energi Ukraina dan menewaskan enam orang di Kyiv dan Zaporizhzhia. Di tengah krisis Timur Tengah yang mengalihkan fokus dunia, para pemimpin Eropa kini mempertimbangkan negosiasi langsung dengan Putin.

23 jam lalu
TRUMP KEOK! Veteran AS yang Nekat Bakar Bendera di Depan Gedung Putih Akhirnya Bebas dari Jerat Hukum!
Internasional

TRUMP KEOK! Veteran AS yang Nekat Bakar Bendera di Depan Gedung Putih Akhirnya Bebas dari Jerat Hukum!

Pemerintahan Presiden Donald Trump akhirnya membatalkan penuntutan terhadap Jan "Jay" Carey, veteran militer AS yang membakar bendera untuk memprotes perintah eksekutif Trump. Sebelumnya, Trump mengancam pembakar bendera dengan hukuman penjara satu tahun. Mahkamah Agung AS telah lama melindungi aksi ini sebagai kebebasan berekspresi, sehingga Departemen Kehakiman terpaksa mundur.

23 jam lalu
LANGIT ISLAMABAD DITUTUP! Drone Taliban Menggila, Pakistan Balas Luluhlantakkan Pangkalan Militer Kandahar!
Internasional

LANGIT ISLAMABAD DITUTUP! Drone Taliban Menggila, Pakistan Balas Luluhlantakkan Pangkalan Militer Kandahar!

Ketegangan memuncak antara Pakistan dan Afghanistan setelah Taliban meluncurkan serangan drone ke wilayah Pakistan. Merespons hal tersebut, Pakistan membalas lewat serangan udara ke fasilitas militer di Kandahar. Konflik yang memanas sejak akhir Februari ini telah menewaskan 75 warga sipil dan memicu 115.000 pengungsi. PBB serta Tiongkok kini mendesak kedua pihak untuk segera berdialog.

23 jam lalu
Kritis di ICU! Mantan Presiden Brasil Dilarikan ke Rumah Sakit, Nyawa Terancam?
Internasional

Kritis di ICU! Mantan Presiden Brasil Dilarikan ke Rumah Sakit, Nyawa Terancam?

Eks Presiden Brasil Jair Bolsonaro kritis di ICU akibat pneumonia serius. Keluarga menuding adanya penelantaran medis di penjara, sementara dokter menyebut kondisi pria 70 tahun ini sangat berisiko fatal.

14 Maret 2026