Nantang Perang! Pemimpin Baru Iran Minta Seluruh Pangkalan Militer AS Segera Ditutup atau Hancur Lebur!

Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei, suksesor pemimpin tertinggi Iran, kirim ultimatum keras ke Amerika Serikat. Ia ancam akan hancurkan seluruh pangkalan militer AS jika tak segera angkat kaki dari Timur Tengah.
Mojtaba Khamenei akhirnya muncul memberikan pesan publik perdananya setelah resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Penunjukannya dilakukan usai sang ayah, Ali Khamenei, yang telah berkuasa selama 37 tahun, tewas dalam serangkaian operasi militer Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Pesan krusial tersebut disiarkan melalui televisi nasional Iran pada Kamis, 12 Maret 2026.
Dalam pidato perdananya, sosok yang baru terpilih secara konsensus oleh Dewan Ahli Iran ini langsung melontarkan ultimatum bernada ancaman mematikan. Ia memperingatkan Washington untuk segera angkat kaki dan menutup seluruh pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di wilayah Timur Tengah. Jika tuntutan tersebut diabaikan, Khamenei menegaskan bahwa militer Iran tak segan menjadikan pangkalan-pangkalan tersebut sebagai target serangan langsung.
Selain ancaman invasi pangkalan, Khamenei juga mendeklarasikan strategi pemblokiran rute perdagangan vital global. Ia memastikan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup rapat-rapat. Pemblokiran urat nadi perairan ini digunakan Teheran sebagai senjata ekonomi pamungkas untuk menekan musuh-musuh politik mereka di tengah eskalasi konflik yang kian meruncing.
Meski begitu, Khamenei menegaskan bahwa Iran masih menjunjung tinggi nilai persahabatan dengan negara-negara tetangga di kawasan tersebut. Namun, ia juga memastikan bahwa operasi perlawanan ini tidak akan dilakukan sendirian. Sederet kelompok bersenjata sekutu, mulai dari milisi di Yaman hingga pasukan sokongan di Irak, diklaim telah bersiaga penuh untuk memberikan bantuan tempur melawan agresi AS dan Israel.
Manuver keras Khamenei ini memantik reaksi beragam dari pengamat politik internasional. Sebagian analis menilai retorika perang ini sengaja digunakan untuk mengalihkan perhatian publik dari krisis domestik dan masalah ekonomi yang sedang melilit Iran. Terlebih, seruan konfrontasi ini seakan menabrak pernyataan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang sebelumnya sempat menyinggung potensi gencatan senjata bersyarat.
Di sisi lain, gertakan Teheran ini diprediksi akan memicu respons keras dari Presiden AS, Donald Trump. Washington sebelumnya telah menekan Iran agar "berkaca" dari skenario politik di Venezuela, serta memaksa negara Republik Islam tersebut untuk memilih pemimpin yang bisa diajak berkompromi. Namun, melihat sikap keras kepala Khamenei, tampaknya bara konflik di Timur Tengah ini masih jauh dari kata padam, dan dukungan dari jutaan warga loyalis Iran akan terus memanaskan situasi.









