Donald Trump Gigit Jari! Hakim AS Beri Pukulan Telak, Blokir Paksa Investigasi Kriminal Bos The Fed

Ketua Federal Reserve Jerome Powell berbicara dalam konferensi pers usai pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di kantor Federal Reserve, Washington, 29 Oktober 2025.
Hakim federal AS resmi memblokir panggilan pengadilan terkait penyelidikan kriminal Ketua The Fed Jerome Powell. Keputusan ini dinilai jadi pukulan bagi Trump yang mendesak penurunan suku bunga.
Hakim federal Amerika Serikat baru saja menjatuhkan putusan mengejutkan dengan memblokir panggilan pengadilan (subpoena) terhadap bank sentral Federal Reserve (The Fed). Pemblokiran ini berkaitan erat dengan manuver penyelidikan kriminal yang menargetkan sang Ketua The Fed, Jerome Powell. Putusan pengadilan yang baru dibuka untuk publik pada hari Jumat tersebut sontak memicu ketegangan baru di ranah hukum dan konstelasi politik Washington.
Merespons putusan yang tidak menguntungkan itu, Jaksa AS untuk Distrik Columbia, Jeanine Pirro, langsung bereaksi keras. Dalam sebuah konferensi pers, ia melabeli putusan hakim tersebut sebagai sesuatu yang "keterlaluan" dan menyatakan bahwa Departemen Kehakiman akan segera mengajukan proses banding. Pirro mengkritik tajam putusan tersebut karena dianggap memberikan kekebalan hukum mutlak bagi seorang Jerome Powell tanpa dilandasi otoritas hukum yang kuat.
Di sisi lain, Hakim Distrik AS James Boasberg dalam putusannya memberikan teguran dan catatan yang sangat menohok. Menurut Boasberg, seluruh bukti yang dipaparkan di persidangan mengarah pada satu kesimpulan terang: penyelidikan tersebut sengaja dirancang murni untuk menekan dan mengintimidasi Powell. Tujuannya disinyalir kuat agar Powell tunduk pada tekanan Presiden Donald Trump untuk segera memangkas suku bunga, atau memaksanya mundur agar posisinya bisa digantikan oleh figur yang lebih penurut.
Secara resmi, tim jaksa mengklaim bahwa penyelidikan yang dipimpin oleh Pirro berfokus pada kejanggalan proyek renovasi kantor pusat The Fed yang menelan biaya miliaran dolar, serta menyoroti kesaksian Powell terkait proyek tersebut di hadapan Komite Perbankan Senat. Namun, Hakim Boasberg dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah gagal menyodorkan satu pun bukti nyata tindak pidana yang dilakukan Powell, selain fakta bahwa sang bos The Fed membuat keputusan yang tidak disukai oleh Presiden.
Imbas dari putusan pengadilan dan rencana banding ini diprediksi kuat akan memperpanjang masa jabatan Powell di kursi nomor satu The Fed hingga masa baktinya berakhir pada Mei mendatang. Situasi ini semakin diperkuat oleh sikap Senator Thom Tillis yang bersumpah akan terus memblokir konfirmasi Kevin Warsh—kandidat pilihan Trump untuk menggantikan Powell—hingga investigasi ini benar-benar dihentikan. Tanpa persetujuan dari komite, nama Warsh tidak akan bisa maju ke tahap pemungutan suara di Senat penuh.
Di luar drama hukum dan intrik politik ini, ambisi pemerintahan Trump untuk memangkas suku bunga juga tengah terbentur oleh realitas ekonomi global yang sedang memanas. Konflik yang sedang berlangsung dengan Iran telah memicu lonjakan tajam pada harga energi dunia. Situasi penuh ketidakpastian ini mau tidak mau memaksa para pejabat The Fed untuk bersikap jauh lebih hati-hati, sehingga pasar pun mulai membuang jauh-jauh harapan akan adanya pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. (Sumber: CNBC)









