Janji Manis "Drill, Baby, Drill" Runtuh! Siasat Pengeboran Minyak Trump Gagal Total Redam Krisis Perang Iran

residen AS Donald Trump berbicara dalam acara Bulan Sejarah Perempuan, di East Room Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 12 Maret 2026.
Ambisi Donald Trump atasi krisis energi lewat pengeboran minyak domestik dinilai gagal. Penutupan Selat Hormuz akibat perang AS-Iran bikin pasokan anjlok, harga gas terancam meroket!
Janji kampanye andalan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berbunyi "drill, baby, drill" (bor, sayang, bor) tampaknya mulai menemui jalan buntu. Slogan yang digadang-gadang mampu menyelamatkan ekonomi Amerika tersebut kini dinilai tidak akan mampu membebaskan Washington dari jerat krisis minyak global. Krisis ini merupakan imbas langsung dari perang yang pecah antara Amerika Serikat dan Iran, yang kini telah memasuki minggu kedua.
Sepanjang tahun lalu, Trump bersama kubu Republik memang sangat agresif mendorong kebijakan yang pro terhadap industri bahan bakar fosil. Berbekal kemenangan elektoral pada 2024, mereka berjanji akan menurunkan biaya hidup masyarakat, salah satunya dengan menekan harga gas. Pemerintahan Trump bahkan merilis undang-undang ambisius yang membuka lahan-lahan baru untuk penyewaan minyak dan gas, memangkas berbagai regulasi yang dianggap menghambat, serta mempercepat jadwal operasional rig di lahan dan perairan federal.
Namun, realitas geopolitik saat ini memaksa Trump berhadapan dengan krisis yang hampir mustahil diselesaikan hanya dengan menambah sumur pengeboran. Perang di Iran telah mengguncang pasar minyak dunia dengan sangat hebat, terutama karena Selat Hormuz—jalur perairan sempit yang menjadi urat nadi perdagangan minyak—kini lumpuh dan tidak dapat dilewati. Padahal, selat strategis tersebut menampung sekitar 20 persen dari total pasokan minyak global.
Sejumlah analis ekonomi dan anggota parlemen pesimis bahwa Amerika Serikat bisa meningkatkan laju pengeboran dalam waktu singkat untuk menutupi kekosongan pasokan global tersebut. Salah satu anggota Komite Energi dan Sumber Daya Alam Senat AS menegaskan bahwa masalah utamanya ada pada kuantitas yang hilang. Menurutnya, sebanyak apa pun cadangan strategis yang dilepas atau sumur baru yang dibor, AS tidak akan mampu menambal defisit volume minyak dari Timur Tengah dalam sekejap.
Slogan "drill, baby, drill" sendiri bukan barang baru, melainkan telah populer sejak 2008 dan terus menjadi seruan andalan kubu Republik. Sayangnya, implementasi kebijakan ini di lapangan tidak selancar narasinya. Sebuah laporan terbaru bahkan mengungkap bahwa tidak ada satu pun perusahaan yang berminat menawar proyek eksplorasi minyak dan gas lepas pantai baru yang dibuka pemerintah di kawasan Cook Inlet, Alaska. Saat ini, AS tercatat hanya memproduksi sekitar 13,7 juta barel minyak per hari, sementara kebutuhan kilang domestik mencapai 16 juta barel per harinya.
Lebih jauh lagi, harga minyak sangat bergantung pada kondisi pasar global. Dunia saat ini membutuhkan lebih dari 100 juta barel minyak per hari untuk terus beroperasi. Dengan tertutupnya Selat Hormuz, keseimbangan antara pasokan dan permintaan dunia dipastikan akan hancur berantakan untuk jangka waktu yang cukup lama. Hal ini berarti konsumen tetap akan merasakan dampak lonjakan harga bahan bakar selama berbulan-bulan ke depan, terlepas dari seberapa keras upaya pengeboran lokal dipacu.
Pakar ekonomi dari lembaga riset independen turut mengamini bahwa menambah volume pengeboran domestik demi mengimbangi kelumpuhan Selat Hormuz adalah hal yang tidak realistis. Peningkatan drastis produksi minyak AS selama 15 tahun terakhir memang sebuah pencapaian besar, namun itu memakan waktu belasan tahun, bukan hitungan hari. Mengharapkan lonjakan produksi instan dari AS untuk menyeimbangkan pasar global di tengah perang yang diprediksi berumur pendek adalah sebuah ilusi belaka.









