Dunia Lengah Nonton Perang Iran, Genosida di Gaza dan Tepi Barat Makin Menggila! Korban Tembus 72 Ribu Jiwa

Warga Palestina yang mengungsi selama perang Gaza tinggal di tenda-tenda yang terpapar hujan, panas, dingin, dan angin di Khan Younis, Gaza selatan. [Ramadan Abed/Reuters]
Saat dunia fokus pada perang AS-Israel di Iran, serangan mematikan di Gaza dan Tepi Barat terus terjadi. Korban jiwa capai 72.000 orang, perbatasan ditutup, dan kelaparan massal mengancam.
Di tengah sorotan dunia yang terpaku pada eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, sebuah tragedi kemanusiaan yang lebih sunyi namun tak kalah mematikan terus berlangsung. Serangan militer dan penyerbuan oleh pemukim ilegal di Jalur Gaza serta Tepi Barat yang diduduki sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Sejak pecahnya konflik pada Oktober 2023 silam, lebih dari 72.000 nyawa warga Palestina telah melayang, di mana mayoritas korbannya adalah perempuan dan anak-anak yang tak berdosa, sementara hampir seluruh wilayah tersebut kini rata dengan tanah.
Penderitaan warga Gaza semakin diperparah dengan ditutupnya pintu penyeberangan perbatasan utama di Rafah oleh otoritas Israel pada awal Maret ini. Penutupan yang diklaim sebagai penyesuaian keamanan imbas perang Iran ini secara otomatis memutus urat nadi penyaluran bantuan kemanusiaan dan evakuasi medis darurat. Akibatnya, gelombang panic buying melanda sisa-sisa penduduk Gaza yang kini dihadapkan pada ancaman kelaparan ekstrem dan terhentinya operasional dapur-dapur umum amal yang menjadi tumpuan hidup banyak keluarga.
Meski Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyerukan pembukaan kembali perbatasan, dan sebagian akses mulai dibuka secara bertahap, krisis keamanan tak kunjung usai. Serangan udara berbasis drone dilaporkan terus merenggut nyawa warga sipil secara acak, termasuk insiden tragis yang menewaskan seorang ayah dan anak perempuannya di kawasan Khan Younis. Di saat yang bersamaan, kelangkaan bahan bakar dan gas elpiji yang sangat kronis memicu krisis kesehatan tingkat tinggi, yang menurut lembaga hak asasi manusia global, telah merampas hak hidup dan layanan medis dasar bagi para perempuan hamil serta pasien penyakit kronis di Gaza.
Pemandangan kelam serupa juga menyelimuti kawasan Tepi Barat. Pasukan keamanan Israel terus memperketat ruang gerak warga, termasuk menutup akses ibadah di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur, serta membatalkan pelaksanaan salat Jumat dengan alasan siaga keamanan merespons ancaman kawasan. Tak hanya itu, militer juga secara rutin melakukan penggerebekan agresif ke sejumlah kamp pengungsi, merangsek masuk, memblokir jalan, dan menggeledah rumah-rumah warga secara paksa.
Teror paling mengerikan di Tepi Barat justru datang dari pergerakan para pemukim ilegal Israel yang semakin leluasa menyerang desa-desa kecil Palestina. Berdasarkan data otoritas kesehatan setempat, lebih dari 1.000 warga Palestina telah tewas sejak dimulainya perang Gaza akibat rentetan kekerasan ini. Dalam beberapa hari terakhir saja, sejumlah warga sipil tewas terbunuh secara tragis akibat tembakan peluru tajam dari para pemukim di berbagai wilayah, mulai dari Qaryut, Masafer Yatta, hingga insiden fatal di desa Khirbet Abu Falah.
Ruang napas warga Palestina semakin dicekik dengan diterbitkannya selebaran dari otoritas Israel yang melarang keras pergerakan warga antar-provinsi di Tepi Barat. Blokade berlapis di jalan raya dan penutupan pintu masuk kota-kota penting seperti Ramallah dan Nablus membuat warga seolah hidup di dalam penjara terbuka yang baru, melumpuhkan seluruh roda perekonomian dan mobilitas harian.
Serangkaian insiden pengrusakan, termasuk pembakaran peternakan unggas milik warga Palestina di Betlehem hingga rumah yang hancur terkena puing rudal di Biddya utara, menjadi bukti nyata eskalasi kekerasan yang tak terbendung. Ketika mata komunitas internasional terus dialihkan ke langit Teheran, jerit penderitaan di tanah Palestina justru semakin dalam tertimbun reruntuhan dan birokrasi perang. (Sumber: Aljazeera)









