Badai PHK Tech Lanjut! Bos Jira Tega Pecat 1.600 Karyawan Demi Danai Proyek AI, Pekerja IT Mulai Terancam?

Mike Cannon-Brookes, Co-founder dan CEO Atlassian Corp. Ia menyatakan bahwa pemangkasan 1.600 karyawan merupakan bentuk adaptasi perusahaan dalam menghadapi era kecerdasan buatan (AI) dan upaya meraih profitabilitas jangka panjang.
Atlassian (pembuat Jira) mem-PHK 1.600 karyawan (10%) demi mendanai investasi AI. Keputusan ini diambil usai saham perusahaan anjlok 84% akibat ketatnya persaingan kecerdasan buatan.
Raksasa perangkat lunak asal Australia, Atlassian, mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 10% tenaga kerjanya, atau sekitar 1.600 karyawan. Keputusan drastis ini diambil perusahaan sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran untuk mendanai investasi lebih lanjut di bidang kecerdasan buatan (AI) dan penjualan skala enterprise.
Langkah efisiensi ini terpaksa dilakukan setelah saham perusahaan—yang sangat populer di kalangan software developer lewat produk Jira dan Trello ini—anjlok tajam hingga 84% dari puncaknya pada tahun 2021. Penurunan nilai valuasi tersebut utamanya didorong oleh kekhawatiran investor terhadap ancaman kompetitif dari alat AI generatif baru seperti Claude Cowork besutan Anthropic yang mulai menggerus pasar alat kolaborasi.
CEO Atlassian, Mike Cannon-Brookes, menjelaskan bahwa pemangkasan ini akan memakan biaya pesangon sekitar $225 juta hingga $236 juta dan ditargetkan selesai pada akhir Juni. Di sisi lain, perusahaan kini sedang gencar mendorong penggunaan fitur Rovo AI mereka yang baru-baru ini diklaim telah menembus 5 juta pengguna aktif bulanan, demi mempertahankan momentum pertumbuhan pendapatan.
Badai PHK dengan dalih pergeseran fokus ke AI bukan hanya terjadi di Atlassian. Sebelumnya, perusahaan teknologi raksasa lain seperti Block (dipimpin Jack Dorsey) dan Amazon juga melakukan efisiensi hingga belasan ribu karyawan dengan alasan transformasi bisnis menuju operasi yang menjadikan "kecerdasan" sebagai inti pergerakan perusahaan di masa depan.
Meski memangkas ribuan staf, Cannon-Brookes membantah bahwa AI secara langsung menggantikan posisi manusia di perusahaannya. Ia menegaskan bahwa adopsi AI sekadar mengubah bauran keterampilan (skill mix) yang dibutuhkan industri saat ini. Selain adaptasi teknologi, manuver ini juga menjadi upaya krusial bagi Atlassian untuk akhirnya meraih profitabilitas penuh, sebuah pencapaian yang belum pernah mereka rasakan sejak tahun 2017 silam.







