Krisis Chip Meluas, Harga Ponsel Oppo, OnePlus, Asus, dan Vivo Mulai Merangkak Naik

OPPO Find X8
Harga smartphone dari merek-merek ternama asal China seperti Oppo, OnePlus, hingga Asus dan Vivo dipastikan naik akibat krisis cip memori global. Kelangkaan komponen memori RAM dan ruang penyimpanan berkecepatan tinggi memaksa produsen menyesuaikan harga jual, terutama pada ponsel di segmen kelas menengah ke bawah. Kondisi harga tinggi ini diprediksi baru akan mereda pada awal tahun 2027.
Industri teknologi global tengah menghadapi tantangan berat. Harga smartphone atau ponsel pintar di pasaran diprediksi akan semakin mahal dalam waktu dekat. Hal ini merupakan imbas langsung dari krisis kelangkaan cip memori global yang belum kunjung usai, sehingga memaksa sejumlah vendor besar, terutama asal China, untuk menaikkan harga produk mereka.
Dua pabrikan besar, yakni Oppo dan OnePlus, telah secara terbuka mengonfirmasi penyesuaian harga ini. Melalui pengumuman resminya, mereka menyatakan bahwa kenaikan harga untuk sejumlah seri ponsel yang telah beredar di pasaran akan mulai diberlakukan secara efektif pada 16 Maret 2026.
Keputusan pahit ini harus diambil oleh produsen menyusul melonjaknya biaya produksi secara tak terkendali. Lonjakan paling tajam terjadi pada pengadaan komponen krusial, seperti cip memori RAM dan perangkat keras penyimpanan internal berkecepatan tinggi yang pasokannya sangat terbatas di pasar global.
"Menanggapi meningkatnya biaya sejumlah komponen utama ponsel... mulai 16 Maret 2026, Oppo akan menyesuaikan harga beberapa produk yang telah dirilis sebelumnya untuk memastikan kualitas produk tetap unggul," demikian bunyi keterangan resmi perusahaan seperti dikutip dari 9to5Google.
Untuk tahap awal, penyesuaian harga dari pihak Oppo dikabarkan akan menyasar lini ponsel seri A, seri K, dan beberapa perangkat di bawah merek OnePlus. Meski demikian, para penggemar teknologi masih bisa bernapas lega karena ponsel di kelas flagship atau premium—seperti seri Find, Reno, serta tablet Oppo Pad—belum terkena imbas kenaikan untuk saat ini.
Fenomena meroketnya harga komponen ini dibenarkan oleh para pengamat industri. Associate Market Analyst Devices Research IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, menuturkan bahwa tren kenaikan harga ini sebenarnya sudah mulai tercium sejak awal tahun. Imbas dari krisis cip global kini mulai dirasakan secara nyata oleh pasar gawai di Indonesia.
Menurut Vanessa, segmen ponsel dengan harga terjangkau (entry-level) adalah kelompok yang paling rentan dan akan paling parah terdampak. Hal ini wajar mengingat margin keuntungan produsen di kelas entry-level sangat tipis, sehingga mereka tidak memiliki ruang untuk menyerap biaya produksi ekstra selain membebankannya kepada konsumen akhir.
Langkah serupa rupanya juga diambil oleh kompetitor lainnya. Vivo Indonesia, melalui PR Manager Alexa Tiara, membenarkan bahwa perusahaannya juga akan melakukan penyesuaian harga pada beberapa seri produknya. Penyesuaian ini dilakukan berdasarkan evaluasi komprehensif terhadap biaya komponen yang terus merangkak naik.
Tak ketinggalan, produsen perangkat keras asal Taiwan, Asus, juga telah mengumumkan kebijakan serupa di Indonesia yang berlaku mulai kuartal pertama tahun 2026 ini. Bedanya, Asus menerapkan kenaikan harga ini secara merata untuk seluruh kategori segmen laptop mereka demi menjaga arus pasokan dan standar kualitas produk.
Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, para analis mengimbau calon pembeli gawai untuk mempersiapkan anggaran ekstra. Pasalnya, krisis cip ini diperkirakan baru akan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada semester kedua 2026, dan stabilisasi harga kemungkinan baru akan benar-benar terwujud pada awal tahun 2027 mendatang.







