Kejutan! Google Resmi "Lepas" Bisnis Internet GFiber, Ada Apa dengan Raksasa Teknologi Dunia?

Bisnis Internet Google Fiber
Google resmi melepas saham mayoritas unit internetnya, GFiber, untuk bergabung dengan Astound Broadband. Langkah besar ini diambil guna menggalang dana segar demi ambisi ekspansi jaringan AI global.
Google baru saja mengumumkan langkah strategis dengan menjual sebagian besar saham unit bisnis internet kabelnya, GFiber. Dalam kesepakatan terbaru ini, GFiber akan bergabung dengan Astound Broadband untuk membentuk penyedia layanan independen baru. Meskipun melepaskan kendali utama, Google tetap mempertahankan posisinya sebagai pemegang saham minoritas dalam entitas gabungan tersebut.
Perusahaan baru ini nantinya akan dimiliki secara mayoritas oleh firma investasi Stonepeak, namun tetap dipimpin oleh tim eksekutif GFiber yang sudah ada. Langkah ini diambil untuk memanfaatkan keahlian mereka dalam inovasi serat optik berkecepatan tinggi guna mengelola jangkauan jaringan yang kini semakin luas. Transaksi besar ini diperkirakan akan rampung sepenuhnya pada kuartal keempat tahun 2026.
Sejak diluncurkan pada tahun 2010, Google Fiber merupakan ambisi awal Google untuk membangun jaringan internet ultra-cepat di Amerika Serikat. Meskipun sempat mengalami pembatalan ekspansi di beberapa wilayah karena biaya yang sangat tinggi, perusahaan kini memilih jalur kemandirian finansial. Modal eksternal dari Stonepeak diharapkan dapat mempercepat penyebaran jaringan fiber ke seluruh pelosok negeri.
Keputusan spin-off ini terjadi di tengah melonjaknya permintaan dunia akan jaringan berkapasitas tinggi yang dipicu oleh layanan kecerdasan buatan (AI). Selama ini, GFiber masuk dalam kategori "Other Bets" di Alphabet yang mencatat kerugian operasional cukup besar. Dengan kemitraan ini, Google berharap unit internetnya bisa tumbuh lebih gesit tanpa terus membebani laporan keuangan inti perusahaan.
Astound sendiri merupakan operator kabel besar AS yang diakuisisi Stonepeak senilai $8,1 miliar pada 2021 lalu. Penggabungan ini menandai babak baru dalam industri infrastruktur digital, di mana raksasa teknologi mulai fokus pada efisiensi modal sambil tetap berusaha memenuhi kebutuhan bandwidth global untuk cloud computing dan layanan streaming masa depan.







