LANGIT ISLAMABAD DITUTUP! Drone Taliban Menggila, Pakistan Balas Luluhlantakkan Pangkalan Militer Kandahar!

Asap membumbung di sisi perbatasan Torkham wilayah Afghanistan, dekat Pakistan, pada 28 Februari.
Ketegangan memuncak antara Pakistan dan Afghanistan setelah Taliban meluncurkan serangan drone ke wilayah Pakistan. Merespons hal tersebut, Pakistan membalas lewat serangan udara ke fasilitas militer di Kandahar. Konflik yang memanas sejak akhir Februari ini telah menewaskan 75 warga sipil dan memicu 115.000 pengungsi. PBB serta Tiongkok kini mendesak kedua pihak untuk segera berdialog.
Ketegangan di wilayah Asia Selatan kembali memanas. Militer Pakistan baru saja melancarkan serangan udara mematikan terhadap sebuah fasilitas militer Afghanistan di Kandahar pada Sabtu. Serangan ini merupakan bentuk balasan langsung atas rentetan serangan drone (pesawat tak berawak) yang diluncurkan oleh kelompok Taliban ke wilayah sipil dan instalasi militer Pakistan.
Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari, dengan tegas mengutuk serangan drone yang terjadi pada malam sebelumnya. Zardari memberikan peringatan keras kepada pemerintah di Kabul, menyatakan bahwa mereka telah "melewati batas merah dengan mencoba menargetkan warga sipil kami".
Pihak militer Pakistan menjelaskan bahwa drone yang digunakan oleh Taliban merupakan perangkat rakitan lokal yang masih rudimenter. Sebagian besar drone tersebut berhasil dicegat sebelum mencapai target utamanya. Namun nahas, puing-puing jatuhan drone dilaporkan melukai dua orang anak di wilayah Quetta, serta beberapa warga sipil di kawasan Kohat dan Rawalpindi.
Eskalasi serangan ini memicu kepanikan di tingkat nasional. Sebuah sumber keamanan kepada kantor berita AFP mengungkapkan bahwa wilayah udara di sekitar ibu kota Islamabad bahkan sempat ditutup sementara ketika pergerakan drone tak dikenal itu terdeteksi oleh radar.
Pemerintah di Islamabad mengklaim bahwa fasilitas di Kandahar yang mereka gempur merupakan basis penting yang digunakan Taliban. Fasilitas tersebut dituding tidak hanya sebagai titik peluncuran drone, tetapi juga sebagai pangkalan utama untuk aktivitas pemberontakan lintas batas.
Aksi saling balas ini menandai eskalasi tunggal paling tajam dalam konflik yang terus meruncing sejak akhir Februari lalu. Konflik ini bermula ketika Pakistan menggelar operasi militer terhadap kelompok pejuang Taliban Pakistan (TTP) yang diyakini berlindung di tanah Afghanistan. Selain itu, Islamabad menuduh Kabul menyembunyikan afiliasi kelompok ISIL (ISIS) provinsi Khorasan, meski kedua tuduhan ini dibantah keras oleh pemerintah Taliban.
Sebelum gempuran di Kandahar, Pakistan juga telah melakukan serangan udara ke ibu kota Kabul dan provinsi perbatasan timur Afghanistan pada Kamis malam hingga Jumat. Serangan tersebut menewaskan empat orang di ibu kota—termasuk perempuan dan anak-anak—serta dua orang lainnya di wilayah timur. Seorang warga di lingkungan Pul-e-Charkhi, Kabul, bahkan menceritakan kengerian saat ia terkubur di bawah puing-puing rumahnya sendiri akibat serangan udara tersebut.
Target serangan pesawat tempur Pakistan rupanya tidak hanya menyasar fasilitas militer. Mereka turut menghantam depot bahan bakar milik maskapai swasta Kam Air di dekat bandara Kandahar. Seorang pejabat bandara menegaskan bahwa di lokasi tersebut tidak ada instalasi militer, melainkan depot penyuplai bahan bakar untuk organisasi bantuan kemanusiaan, termasuk PBB dan Palang Merah Internasional.
Menyikapi gempuran ini, Kementerian Pertahanan Afghanistan mengklaim bahwa pasukannya telah berhasil merebut sebuah pos perbatasan Pakistan dan menewaskan 14 tentara. Namun, klaim ini langsung ditepis oleh juru bicara Perdana Menteri Pakistan yang menyebut Taliban hanya "mengarang fantasi" alih-alih membongkar jaringan pemberontak di wilayah mereka.
Krisis militer ini telah membawa dampak kemanusiaan yang masif. Misi PBB di Afghanistan mencatat setidaknya 75 warga sipil tewas—termasuk 24 anak-anak—dan 193 lainnya terluka sejak permusuhan meningkat pada 26 Februari. Badan pengungsi PBB (UNHCR) juga melaporkan sekitar 115.000 orang terpaksa mengungsi. Situasi ini semakin rumit mengingat kawasan Timur Tengah dan sekitarnya juga sedang dilanda ketegangan akibat perang AS-Israel dengan Iran.









