Israel Gempur Gaza Tengah: 13 Warga Palestina Tewas dan Rencana Pembukaan Terbatas Jalur Rafah

Ribuan warga Palestina terlihat mengantre dan mengungsi di tengah reruntuhan bangunan dan hamparan pasir di Gaza seiring terus berlanjutnya konflik.
Serangan udara Israel menewaskan 13 warga Palestina di Gaza, termasuk sembilan petugas polisi dan seorang wanita hamil. Insiden tragis ini terjadi di tengah bulan suci Ramadan dan upaya gencatan senjata yang belum stabil. Di sisi lain, muncul kabar pembukaan terbatas gerbang Rafah pada Rabu mendatang untuk memfasilitasi ribuan pasien yang kritis di tengah krisis obat-obatan yang akut.
Eskalasi kekerasan kembali mengguncang wilayah Gaza setelah serangkaian serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 13 orang warga Palestina pada hari Minggu. Di antara para korban terdapat sembilan personel kepolisian, dua anak laki-laki, dan seorang wanita yang tengah hamil anak kembar. Insiden ini terjadi di tengah bulan suci Ramadan, menambah kelam situasi di wilayah yang telah hancur akibat perang panjang tersebut.
Salah satu gempuran mematikan menghantam sebuah rumah di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah. Serangan mendadak ini merenggut nyawa satu keluarga dan tetangga mereka tanpa adanya peringatan terlebih dahulu. Saksi mata di lokasi kejadian menyebutkan bahwa ledakan terjadi saat warga tengah beristirahat, menyebabkan kehancuran total pada bangunan tempat tinggal tersebut.
Hampir bersamaan, serangan lain menyasar sebuah kendaraan operasional kepolisian di Koridor Philadelphi, pintu masuk az-Zawayda. Gempuran tersebut menewaskan sembilan petugas polisi yang saat itu sedang bertugas memantau ketertiban pasar dan menjaga keamanan masyarakat selama bulan puasa. Kementerian Dalam Negeri setempat mengutuk keras serangan ini dan menyebutnya sebagai kejahatan terhadap petugas yang sedang menjalankan kewajiban sipil.
Meskipun kesepakatan "gencatan senjata" sempat dibahas untuk meredam agresi yang telah berlangsung lebih dari dua tahun, serangan udara harian dilaporkan masih terus berlanjut. Berdasarkan data kesehatan di Gaza, lebih dari 650 warga Palestina telah kehilangan nyawa sejak 10 Oktober 2025 akibat serangan fisik maupun penembakan di zona militer.
Di tengah kabar duka tersebut, otoritas terkait mengumumkan rencana pembukaan kembali pintu perbatasan Rafah secara terbatas pada Rabu, 18 Maret mendatang. Pengumuman ini menjadi harapan kecil bagi warga Gaza setelah penutupan selama dua minggu yang memperparah krisis kemanusiaan di wilayah terkepung itu.
Namun, pembukaan ini tidak mencakup pengiriman kargo dan hanya diperuntukkan bagi pergerakan penumpang tertentu. Setiap individu yang masuk maupun keluar tetap memerlukan izin keamanan yang ketat dari pihak Israel, koordinasi dengan Mesir, serta pengawasan dari misi perbatasan Uni Eropa.
Langkah ini sangat mendesak mengingat lebih dari 20.000 warga Palestina yang sakit dan terluka kini berada dalam daftar tunggu medis. Di antaranya terdapat ribuan pasien kanker dan anak-anak yang membutuhkan perawatan di luar Gaza karena fasilitas kesehatan setempat telah lumpuh dan stok obat-obatan esensial mulai habis total.
Kondisi hidup di Gaza semakin memburuk sejak konflik regional dengan Iran meluas. Harga kebutuhan pokok meroket hingga dua kali lipat, sementara bantuan kemanusiaan yang masuk masih jauh dari kata cukup. Penderitaan warga semakin lengkap setelah badai pasir menerjang tenda-tenda darurat pengungsi, meninggalkan puluhan ribu orang tanpa perlindungan yang layak.









