Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000 per Dolar AS, Terdampak Panasnya Konflik Timur Tengah

Mata uang indonesia (Rupiah)
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah hingga Rp16.994 pada Senin (16/3/2026), nyaris menembus level psikologis Rp17.000. Pelemahan ini dipicu oleh memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia dan memicu sentimen risk-off. Meski data ekonomi AS sempat menahan laju dolar, rupiah diproyeksi bergerak di kisaran Rp16.900-Rp17.050 pekan ini.
Mata uang Garuda mengawali pekan ini dengan tekanan yang cukup berat. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami depresiasi hingga nyaris menembus level psikologis Rp 17.000 pada perdagangan Senin (16/3/2026).
Berdasarkan pantauan data Bloomberg pada pukul 11.03 WIB di pasar spot exchange, rupiah terkoreksi sebesar 36 poin atau 0,21 persen, membawanya ke level Rp 16.994 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari penutupan perdagangan Jumat (13/3/2026) pekan lalu, di mana rupiah merosot 67 poin dan parkir di posisi Rp 16.960.
Tren pelemahan nilai tukar ini tidak lepas dari sentimen global yang sedang bergejolak. Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, menjelaskan bahwa ketidakpastian yang bersumber dari konflik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan sentimen risiko (risk-off) di pasar keuangan global.
Kecemasan investor global memuncak setelah adanya laporan bahwa eskalasi militer di Timur Tengah semakin meluas. Pihak Gedung Putih mengindikasikan adanya peningkatan skala serangan terhadap Iran yang melampaui perkiraan awal. Situasi ini diperparah dengan langkah Pentagon yang dilaporkan mulai mengerahkan unit ekspedisi Marinir ke kawasan konflik tersebut.
Ketegangan geopolitik ini secara langsung berimbas pada pasar komoditas, khususnya minyak mentah. Lonjakan harga minyak dunia turut menjadi motor penggerak penguatan dolar AS sebagai aset aman (safe haven). Tercatat pada akhir pekan lalu, harga minyak jenis Brent melonjak 2,67 persen dan bertengger di angka US$ 103,14 per barel.
Meski tekanan eksternal begitu kuat, laju penguatan dolar AS sebenarnya sempat tertahan oleh rilis data ekonomi domestik Amerika Serikat yang kurang menggembirakan. Pasar merespons rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal IV-2025 yang meleset dari ekspektasi awal.
Data PDB AS secara mengejutkan direvisi turun menjadi hanya 0,7 persen secara kuartalan (quarter on quarter/qoq). Angka ini merosot tajam dari estimasi sebelumnya yang berada di level 1,4 persen. Penurunan ini memberikan sinyal yang cukup jelas bahwa perekonomian Negeri Paman Sam mulai memperlihatkan tanda-tanda perlambatan.
Di sisi lain, rilis indikator inflasi acuan bank sentral AS (The Fed) menunjukkan hasil yang bervariasi. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE Price Index) sedikit melandai ke angka 2,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026, turun dari 2,9 persen di bulan sebelumnya.
Namun, inflasi inti atau Core PCE Price Index justru mencatatkan sedikit kenaikan menjadi 3,1 persen yoy, dibandingkan sebelumnya yang berada di posisi 3,0 persen yoy. Data yang beragam ini membuat pasar terus menebak-nebak arah kebijakan moneter The Fed ke depannya.
Ke depan, pergerakan rupiah diprediksi masih akan dibayangi volatilitas tinggi. Josua memproyeksikan mata uang Indonesia ini akan berfluktuasi dalam rentang Rp 16.900 hingga Rp 17.050 per dolar AS. Proyeksi ini mempertimbangkan absennya tanda-tanda peredaan konflik di Timur Tengah serta sikap wait and see para investor menjelang periode libur panjang di Indonesia yang akan dimulai pada Rabu (18/3/2026).








