Kadin Proyeksikan Perputaran Uang Libur Lebaran 2026 Tembus Rp 161 Triliun

Mata uang Indonesia (Rupiah)
Kadin Indonesia memproyeksikan perputaran uang selama periode Lebaran 2026 bisa mencapai Rp161,8 triliun, naik 8% dari tahun lalu. Lonjakan konsumsi masyarakat untuk tiket, BBM, hingga kebutuhan pokok ini diyakini mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026. Pemerintah pun diminta menjaga pasokan energi di tengah ketegangan geopolitik global agar daya beli tetap terjaga.
Momentum libur Hari Raya Idul Fitri 1447 H atau Lebaran 2026 diproyeksikan akan membawa angin segar bagi pergerakan ekonomi nasional. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memprediksi perputaran uang selama periode tersebut bisa mencapai kisaran Rp 148,3 triliun hingga menembus Rp 161,8 triliun.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menjelaskan bahwa proyeksi nilai perputaran uang ini mencatatkan kenaikan sekitar 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh tingginya antusiasme masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman.
Proyeksi nilai fantastis tersebut dihitung berdasarkan perkiraan jumlah pemudik yang mencapai 143,9 juta jiwa, yang setara dengan sekitar 35,9 juta kepala keluarga (KK). Dalam skenario moderat, Kadin mengasumsikan setiap keluarga membawa dana sekitar Rp 4.125.000 untuk dibelanjakan selama masa mudik dan liburan.
"Hitungan itu berada di angka yang moderat atau batasan paling rendah. Nilainya masih berpotensi maksimal mencapai Rp 161,8 triliun apabila kita menggunakan asumsi rata-rata setiap keluarga mengalokasikan dana pengeluaran sebesar Rp 4.500.000," terang Sarman dalam keterangan resminya, Minggu (15/3/2026).
Lebih lanjut, Sarman memaparkan bahwa aliran dana ratusan triliun tersebut diprediksi akan mayoritas berputar di wilayah Pulau Jawa, mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Sementara itu, sisa perputaran uang akan menyebar ke berbagai wilayah lain mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga destinasi wisata di Bali.
Aliran pengeluaran masyarakat dinilai akan menyentuh berbagai sektor usaha yang esensial. Sebagian besar dana dipastikan akan mengalir untuk kebutuhan transportasi dan logistik mudik, seperti pembelian tiket perjalanan, pembayaran tarif tol, konsumsi bahan bakar minyak (BBM), hingga biaya servis kendaraan.
Selain sektor transportasi, sektor ritel dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga akan mendapatkan durian runtuh. Pengeluaran ekstra untuk pakaian baru, pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) kepada kerabat, pembelian hampers, belanja kuliner khas daerah, hingga penyaluran zakat dan sedekah akan mendongkrak omzet para pelaku usaha lokal.
Geliat konsumsi rumah tangga yang melonjak 10 hingga 15 persen selama periode Lebaran ini diyakini mampu menjadi motor penggerak utama bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun 2026.
Kadin sangat optimistis target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4 hingga 5,5 persen pada kuartal I dapat direalisasikan. Optimisme ini semakin kuat mengingat siklus ekonomi kuartal pertama juga telah ditopang oleh perputaran uang dari libur Tahun Baru dan perayaan Imlek yang nilainya mencapai Rp 9 triliun.
Meski demikian, Sarman menitipkan pesan penting kepada pemerintah untuk menjaga stabilitas psikologis konsumen. Hal terpenting yang harus digaransi oleh negara adalah ketersediaan serta kelancaran pasokan BBM dan gas LPG selama periode arus mudik hingga arus balik Lebaran selesai.
Ketersediaan energi yang aman menjadi kunci agar masyarakat merasa tenang dan tidak menahan uangnya untuk berbelanja. Kewaspadaan ini sangat krusial, mengingat masyarakat juga tengah memantau dinamika konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yang sewaktu-waktu berisiko mengganggu stabilitas rantai pasok energi ke dalam negeri.








